Ketika bahagia mulai menyamakan langkah ada saja masalah yg memagari, memudarkan garis senyum, memaksa otak dan langkah kaki berputar mencari pintu keluar, memang hanya pagar rendah yang bisa diloncati sebenarnya, tapi akan memagari langkah yg lain, perlu pintu keluar yang bisa dilewati langkah kaki lainnya….

*sahabatku ini sudah berbicara ttg negeri ini sementara aku hanya terjebak dgn kotak2 harta Qarun yang menunggu dibagi (semu) – with Linda

View on Path

Perjalanan panjang tlah tiba di satu titik, sejumlah tanya tak bertemu jawab.
Rebahkan saja lelahmu sejenak… Lukis tanyamu diatas awan dan biarkan ia terbang terbawa angin, lalu turun kembali bersama hujan yang mengusik rebahmu…
Mungkin hujan tak membawa jawaban tapi ia membawamu beranjak dari rebahmu.

#wokeuptothesoundofpouring rain
#abrandnewday

View on Path

Cerita Negeri di Atas Awan

image

Dulu saya tinggal di kaki gunung itu, kalau dilihat dari bawah sering tertutup awan, dulu sempat hidup tanpa listrik, tanpa tv pastinya, cuma ada radio yang channel nya RRI doang, lagunya lagu grup rock malaysia, kadang2 aja lagu dari seberang benua, terkadang rumah jd base camp tmn2 ngumpul, ada lagu baru yang didengar di kota dikulik deh nyanyiin bareng2, ada cerita nih ada tmn nemu lagu boomerang di bus antar kota (punya bus keknya) bisa beredar itu kaset dr tmn ke tmn lain (kaset…thn brp hayoo?) dinyanyiin lah lagu2nya dgn iringan gitar, yaa….meskipun kita orang gunung adalah yg punya gitar….Kapok merknya bukan Yamaha atau gibson 🙂 yg penting ada hiburan sbg ABG kaki gunung.

Itu kalau di rumah, kalau di sekolah beda lagi ceritanya, saya  termasuk yg males banget pake baju kurung (wajib di sekolah Sumbar) bukannya apa2 masa sih disuruh pake baju nyokap…jadinya sering di setrap ngelap kaca kantor sekolah….asiikk ga belajar 🙂 temen disetrapnya biasanya Teti, pasti deh 2 orang ini yg sering ga pake baju kurung, kalau Teti sih karena dia tomboy banget dulu, sekarang sih cantik banget dah jadi hijaber di Bandung.

Teti n Santo lah tmn smp yg sering nengok kita di gunung….
Kadang-kadang di sekolah suka ada yg ceng in “anak gunung turun kota” hhhehe masih inget tuh ceng an sampai sekarang…
Ooh iyaa….dulu jg sering jalan kaki ke sekolah kalau ngga dpt tumpangan bus ke kota padang, dianggap sm si stokar (kenek) sewa batu…karena ngga bayar atau bayar cuma sedikit….kan cuma nebeng turun gunung, itu bus ada 1 atau 2 bus setiap hari, karena statusnya nebeng yaa berdiri aja…kesian yaa…. 😀

Yang saya sesali sampai hari ini cuma 1 hal….kenapa ngga sempat naik gunung Talakmau meskipun dpt ceng an anak gunung turun kota, gunung Talakmau itu ada dibelakangnya gunung yg dulu saya tinggali….kalau sekarang rasanya ngga sanggup deh naik gunung :/ dah banyak umurnya.

Intinya sih mau cerita kalau hinaan ngga berasa hinaan karena kenyataannya begitu, kesulitan hidup ngga berasa sulit karena sudah dilewati, kehidupan di dusun yang bersahaja dan serba cukup karena sudah disediakan alam sampai sekarang masih dikangenin apalagi kalau dibandingkan dengan kehidupan di kota besar yang segalanya dinilai pake uang, serba mall, serba gadget, medsos, banyak trik, tipu daya, main stream, beda dikit dianggap aneh… saya kangen kehidupan dikaki gunung, negeri di atas awan…kangen tmn2 dulu 🙂

11 Juli 2015
11:59 wib

Rencana Perjalanan ke 3 Pulau (Pulau Kelor, Pulau Onrust dan Pulau Cipir)

Rencana ke 3 pulau sebenarnya ngga ada dalam daftar ngetrip saya, tapi karena ada usulan dari 1 orang teman waktu di perjalanan ke Ujung Genteng, teman-teman tertarik dengan usulan itu. akhirnya di mulai dari membaca beberapa review tentang 3 pulau sampai add twitter penyewa kapal, akhirnya belajar sejarah, jatuh cinta sama foto-fotonya, jadilah itinerary menuju 3 pulau ini, pulau Kelor, Onrus dan Cipir.
Rencana awal mau survey dengan beberapa teman, tapi kayaknya ngga seru kalau pakai survey :p selain ngga ketemu waktu pas untuk survey. Informasi di dapat dari hasil browsing ke beberapa website yang memuat informasi Trayek Angkutian umum, informasi jadwal kepulauan seribu dari Dishub DKI Jakarta, blog para traveler, terakhir informasi dari pemilik kapal yang akan kita sewa kapalnya. Btw yang usul ngga jadi ikutan :p kalaupun nantinya ngga jadi ngetrip ke 3 pulau ini yaa… ngga masalah soalnya saya sudah dapat ilmu dari hasil browsing dan kapan-kapan pasti akan ke 3 pulau ini, semoga itinerary ini bermanfaat, tinggal di uji kevalidannya dengan praktek langsung 😉 dengan melakukan perjalanan ke 3 pulau itu.
Yuuk Jalan  baru 9 orang yang sudah konfirmasi dan bergabung di trip kali ini dan semuanya perempuan. quota perahu bisa sampai 20 orang, yang mau bergabung silakan mendaftarkan diri, let’s take a journey 🙂

Itinerary perjalanan ke Pulau Kelor, Onrust dan Cipir, 6 Juni 2015

07.00 Meeting Point di Stasiun Kota
07.00-08.30 Perjalanan dari Stasiun Kota ke Muara Kamal, dari Museum Bank Madiri naik angkot/ mikrolet M 15, terus ganti naik angkot merah KWK B06 (kota-kapuk-kamal) dari jalan Bandengan, Jembatan Tiga. Turun di dekat Muara Kamal, dilanjutkan dengan jalan kaki.
08.45-09.00 Perjalanan Muara Kamal ke Pulau Kelor (menurut informasi dari penyewa perahu kira2 10 menit)
09.00-11.00 Eksplore Pulau Kelor
11.00-11.15 Perjalanan ke Pulau Onrust
11.15-13.15 Eksplore Pulau Onrust, makan siang, shalat dzuhur
13.15-13.30 Perjalanan ke Pulau Cipir
13.30-15.30 Eksplore Pulau Cipir
15.30-16.30 Perjalanan kembali ke Muara Kamal (perkiraannya akan lebih lama)

Kembali ke Stasiun Kota dengan menggunakan kendaraan yang sama.
Rencana hanya buat itinerary tapi sayang waktunya, sekalian aja jadi tulisan awal, semoga akan bersambung dengan cerita perjalanan ke 3 pulau eksotik itu (dari fotonya eksotik)

“The world is a book, and those who do not travel read only one page” – st Agustine

Bon Voyage

Where The Mind Is Without Fear – Poem by Rabindranath Tagore

Where the mind is without fear and the head is held high
Where knowledge is free
Where the world has not been broken up into fragments
By narrow domestic walls
Where words come out from the depth of truth
Where tireless striving stretches its arms towards perfection
Where the clear stream of reason has not lost its way
Into the dreary desert sand of dead habit
Where the mind is led forward by thee
Into ever-widening thought and action
Into that heaven of freedom, my Father, let my country awake

Masih tentang biru

Hati yang membisu mulai bicara
Bicara tentang langit biru, laut biru, bahkan hati yang biru
Tapi sebentar saja karena kemudian langit menghitamkan laut, mengelamkan hati yang kembali membisu

10 April 2015
17.25

image